Ekowisata

Pergeseran konsep kepariwisataan dunia kepada pariwisata minat khusus atau yang dikenal
dengan ekowisata, merupakan sebuah peluang besar bagi negara kita dengan potensi alam yang
luar biasa ini. Hal ini terjadi akibat kecenderungan semakin banyaknya wisatawan yang mengunjungi
objek berbasis alam dan budaya penduduk lokal. Secara definitif, ekowisata yang didefinisikan
sebagai suatu bentuk perjalanan wisata yang bertanggung jawab ke kawasan alami yang dilakukan
dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan
penduduk setempat. memperlihatkan kesatuan konsep yang terintegratif secara konseptual tentang
keseimbangan antara menikmati keindahan alam dan upaya mempertahankannya. Sehingga
pengertian ekowisata dapat dilihat sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan
yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan
meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya.
Ekowisata merupakan perjalanan wisata ke suatu lingkungan baik alam yang alami maupun
buatan serta budaya yang ada yang bersifat informatif dan partisipatif yang bertujuan untuk
menjamin kelestarian alam dan sosial-budaya. Ekowisata menitikberatkan pada tiga hal utama
yaitu; keberlangsungan alam atau ekologi, memberikan manfaat ekonomi, dan secara psikologi
dapat diterima dalam kehidupan sosial masyarakat. Jadi, kegiatan ekowisata secara langsung
memberi akses kepada semua orang untuk melihat, mengetahui, dan menikmati pengalaman alam,
intelektual dan budaya masyarakat lokal.
Secara konseptul ekowisata dapat didefinisikan sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata
berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan
budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan, sehingga memberikan
manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat. Sementara ditinjau dari segi pengelolaanya,
ekowisata dapat didifinisikan sebagai penyelenggaraan kegiatan wisata yang bertanggung jawab
di tempat-tempat alami dan atau daerah-daerah yang dibuat berdasarkan kaidah alam dan secara
ekonomi berkelanjutan yang mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya)
dan meningkatnkan kesejahtraan masyarakat setempat.
Aktivitas ekowisata saat ini tengah menjadi tren yang menarik yang dilakukkan oleh para
wisatawan untuk menikmati bentuk-bentuk wisata yang berbeda dari biasanya. Dalam konteks ini
wisata yang dilakukkan memiliki bagian yang tidak terpisahkan dengan upaya-upaya konservasi,
pemberdayaan ekonomi lokal dan mendorong respek yang lebih tinggi terhadap perbedaan kultur
atau budaya. Hal inilah yang mendasari perbedaan antara konsep ekowisata dengan model wisata
konvensional yang telah ada sebelumnya. Konsep ekowisata menurut wikipedia memilikikarakteristik-karakteristik umum, antara lain: Tujuan perjalanan menyangkut wisata alam,
Meminimalkan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan, Membangun kesadaran terhadap
lingkungan sekitar, Menghasilkan keuntungan finansial secara langsung yang dapat digunakan
untuk melakukan konservasi alam, Memberikan keuntungan finansial dan memberikan kesempatan
pada penduduk lokal, Mempertahankan kebudayaan lokal dan Tidak melanggar hak asasi mannusia
dan pergerakan demografi.
Walaupun banyak nilai-nilai positif yang ditawarkan dalam konsep ekowisata, namun model
ini masih menyisakan kritik dan persoalan terhadap pelaksanaanya. Beberapa kritikan terhadap
konsep ekowisata antara lain:
1) Dampak negatif dari pariwisata terhadap kerusakan lingkungan. Meski konsep ecotourism
mengedepankan isu konservasi didalamnya, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pelanggaran
terhadap hal tersebut masih saja ditemui di lapangan. Hal ini selain disebabkan karena
rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat sekitar dan turis tentang konsep ekowisata,
juga disebabkan karena lemahnya manajemen dan peran pemerintah dalam mendorong upaya
konservasi dan tindakan yang tegas dalam mengatur masalah kerusakan lingkungan.
2) Rendahnya partisipasi masyarakat dalam Ekowisata. Dalam pengembangan wilayah
Ekowisata seringkali melupakan partisipasi masyarakat sebagai stakeholder penting dalam
pengembangan wilayah atau kawasan wisata. Masyarakat sekitar seringkali hanya sebagai
obyek atau penonton, tanpa mampu terlibat secara aktif dalam setiap proses-proses ekonomi
didalamnya.
3) Pengelolaan yang salah. Persepsi dan pengelolaan yang salah dari konsep ekowisata seringkali
terjadi dibeberapa wilayah di Indonesia. Hal ini selain disebabkan karena pemahaman yang
rendah dari konsep Ekowisata juga disebabkan karena lemahnya peran dan pengawasan
pemerintah untuk mengembangkan wilayah wisata secara baik.
Pengembangan ekowista bahari yang hanya terfokus pada pengembangan wilayah pantai dan
lautan sudah mulai tergeser, karena banyak hal lain yang bisa dikembangkan dari wisata bahari
selain pantai dan laut. Salah satunya adalah konsep ekowisata bahari yang berbasis pada
pemadangan dan keunikan alam, karakteristik ekosistem, kekhasan seni budaya dan karakteristik
masyarakat sebagai kekuatan dasar yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Selanjutnya kegiatan
ekowisata lain yang juga dapat dikembangkan, antara lain: berperahu, berenang, snorkling,
menyelam, memancing, kegiatan olahraga pantai dan piknik menikmati atmosfer laut.
Orientasi pemanfaatan pesisir dan lautan serta berbagai elemen pendukung lingkungannya
merupakan suatu bentuk perencanaan dan pengelolaan kawasan secara merupakan suatu kesatuan
yang terintegrasi dan saling mendukung sebagai suatu kawasan wisata bahari. Suatu kawasan
wisata yang baik dan berhasil bila secara optimal didasarkan pada empat aspek yaitu: a)
Mempertahankan kelestarian lingkungannya; b) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
kawasan tersebut; c) Menjamin kepuasan pengunjung dan d) Meningkatkan keterpaduan dan
kesatuan pembangunan masyarakat di sekitar kawasan dan zona pengembangannya.
Selain keempat aspek tersebut, ada beberapa hal yang juga perlu diperhatikan untuk
pengembangan ekowisata bahari, anatara lain : Aspek Ekologis, daya dukung ekologis merupakan
tingkat penggunaan maksimal suatu kawasan; Aspek Fisik, Daya dukung fisik merupakan kawasan
wisata yang menunjukkan jumlah maksimum penggunaan atau kegiatan yang diakomodasikan
dalam area tanpa menyebabkan kerusakan atau penurunan kualitas; Aspek Sosial, Daya dukung
sosial adalah kawasan wisata yang dinyatakan sebagai batas tingkat maksimum dalam jumlah dan
tingkat penggunaan dimana melampauinya akan menimbulkan penurunanan dalam tingkat kualitas
pengalaman atau kepuasan; Aspek Rekreasi, Daya dukung reakreasi merupakan konsep pengelolaan
yang menempatkan kegiatan rekreasi dalam berbagai objek yang terkait dengan kemampuan
kawasan.

Sumber Journal of Indonesian Applied Economics

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s