Ekowisata Mangrove

Hutan mangrove adalah sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu varietas komunitas pantai tropik yang didominasi olehbeberapa spesies pohon pohon yang khas atau semak- semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam perairan asin (Nybakken, 1992). Berbagai macam produk dan jasa lingkungan yang dapat dihasilkan dari ekosistem hutan mangrove.

Salah satu jasa lingkungan yang berpeluang dikembangkan dan tidak merusak ekosistem hutan mangrove adalah ekowisata. Kegiatan ekowisata bisa termanfaatkan bila telah dilakukan pembenahan oleh manusia. Ekowisata merupakan paket perjalanan menikmati keindahan lingkungan tanpa merusak eksosistem hutan yang ada. Vegetasi hutan yang terletak melintang dari arah arus laut merupakan keindahan dan keanekaragaman vegetasi yang berbeda dari formasi hutan lainnya. Terlihat dari keunikan penampakan vegetasi mangrove berupa perakaran yang mencuat keluar dari tempat tumbuhnya (Kustanti, 2011). Disamping keindahan vegetasi penyusunnya, terdapat pula satwa liar dari kelas Aves, Mamalia, dan Reptilia. Satwa liar yang dijumpai mempunyai keunikan dengan penyesuaian kondisi habitatnya. Ekowisata mangrove adalah kawasan yang diperuntuhkan secara khusus untuk dipelihara untuk kepentingan pariwisata. Kawasan hutan mangrove adalah salah satu kawasan pantai yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri, karena keberadaan ekosistem ini berada pada muara sungai atau estuaria. Mangrove hanya tumbuh dan menyebar pada daerah tropis dan subtropis dengan kekhasan organisme baik tumbuhan yang hidup dan berasosiasi disana. Ekosistem mangrove merupakan habitat bagi berbagai fauna, baik fauna khas mangrove maupun fauna yang berasosiasi dengan mangrove. Berbagai fauna tersebut menjadikan mangrove sebagai tempat tinggal, mencari makan, bermain atau tempat berkembang biak. Komunitas fauna mangrove terdiri dari dua kelompok yaitu:
  1. Kelompok fauna daratan /terestia l yang umumnya menempati bagian atas pohon mangrove, terdiri atas: insekta, ular, primata dan burung. Kelompok ini tidak mempunyai sifat adaptasi khusus untuk hidup di dalam hutan mangrove, karena mereka melewatkan sebagian besar hidupnya di luar jangkauan air laut pada pohon yang tinggi, meskipun mereka dapat mengumpulkan makanannya berupa hewan laut pada saat air surut.
  2. Kelompok fauna akuatik/perairan, terdiri atas dua tipe, yaitu: (1) yang hidup di kolom air, terutama jenis ikan dan udang (2) yang menempati substrat baik keras (akar dan batang mangrove) maupun lunak (lumpur) terutama kepiting, kerang dan berbagai jenis invertebrata lainnya.
Beberapa jenis wisata pantai di hutan mangrove antara lain dapat dilakukan pembuatan jalan berupa jembatan diantar a tanaman pengisi hutan mangrove, merupakan atraksi yang akan menarik pengunjung. Juga restoran yang menyajikan masakan dari hasil laut, bisa dibangun sarananya berupa panggung di atas pepohonan yang tidak terlalu tinggi, atau rekreasi memancing serta berperahu.
Sumber FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR. RIZKY ALFIRA
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s